the death of search

mengapa algoritma rekomendasi membunuh rasa penasaran kita

the death of search
I

Pernahkah kita sadari kapan terakhir kali kita benar-benar mencari sesuatu di internet? Maksud saya, benar-benar mengetik kata kunci yang spesifik di kotak pencarian, mengklik halaman ketiga dari hasil pencarian, dan merasa seperti seorang arkeolog digital. Dulu, menemukan lagu indie yang bagus atau artikel aneh tentang sejarah Romawi kuno terasa seperti sebuah pencapaian. Kita merasa bangga karena kita yang menemukannya. Sekarang? Kita tinggal membuka aplikasi, duduk manis, dan membiarkan layar menyuapi kita tanpa henti. Ada sebuah pergeseran diam-diam yang sedang terjadi di kepala kita semua. Sesuatu yang pelan-pelan sedang meredup di balik kenyamanan teknologi ini.

II

Mari kita mundur sedikit ke belakang untuk melihat bagaimana kita sampai di titik ini. Secara evolusioner, otak manusia didesain untuk menjadi sangat efisien. Atau kalau mau jujur, otak kita itu sebenarnya pemalas. Memproses informasi baru membutuhkan kalori yang lumayan besar. Jadi, ketika teknologi menawarkan jalan pintas, otak kita otomatis menyambutnya dengan karpet merah. Selama ribuan tahun, leluhur kita bertahan hidup sebagai hunter-gatherer atau pemburu-pengumpul. Menariknya, insting purba ini tidak hilang saat kita masuk ke era digital. Awalnya, kita adalah pemburu informasi. Kita menggunakan mesin pencari sebagai kompas untuk menjelajah rimba internet. Kita punya niat, kita punya pertanyaan, dan kita aktif memburu jawabannya. Namun, tiba-tiba aturan mainnya berubah drastis. Kita tidak lagi perlu berburu. Semua mangsa informasi sudah disajikan rapi di atas piring perak bernama For You Page atau Timeline.

III

Pertanyaannya, bukankah ini hal yang bagus? Kita menghemat banyak waktu dan energi. Algoritma mesin raksasa ini tampaknya sangat mengerti kita, bahkan kadang terasa lebih dari kita mengerti diri sendiri. Tapi teman-teman, mari kita pikirkan lagi lebih dalam. Kalau semua jawaban sudah diberikan sebelum kita sempat bertanya, apa yang terjadi pada kemampuan kita untuk merumuskan pertanyaan? Di sinilah masalahnya mulai terasa meresahkan. Ada harga mahal yang tersembunyi di balik kenyamanan absolut ini. Ketika algoritma mulai memprediksi apa yang kita sukai semata-mata berdasarkan klik kita di masa lalu, kita sebenarnya sedang dijebloskan ke dalam sebuah ruang cermin raksasa. Kita hanya melihat pantulan selera dan opini kita sendiri, berulang-ulang, tanpa batas. Lalu, bagaimana nasib rasa penasaran kita? Ke mana perginya percikan ketertarikan pada hal-hal asing yang tidak terduga?

IV

Inilah realitas neurosains di balik apa yang para ahli teknologi sebut sebagai the death of search atau matinya pencarian. Kita sering salah paham tentang dopamin. Kita sering mengira dopamin hanyalah "hormon kebahagiaan" yang muncul saat kita mendapat hadiah. Padahal secara ilmiah, dopamin adalah molekul antisipasi dan motivasi. Otak kita melepaskan dopamin dalam jumlah besar justru saat kita sedang mencari, saat kita sedang penasaran, dan saat kita berusaha memecahkan teka-teki. Ketika algoritma rekomendasi mengambil alih proses pencarian ini, mereka secara efektif membajak sistem dopamin kita. Mereka mengubah kita dari penjelajah yang aktif menjadi konsumen yang pasif. Rasa penasaran itu bekerja persis seperti otot. Secara psikologis dan neurologis, jika otot ini tidak pernah dilatih, ia akan mengalami atrofi atau penyusutan. Kita kehilangan serendipity, yaitu kebetulan-kebetulan indah dan mengejutkan saat kita menemukan hal baru yang bahkan tidak pernah kita tahu kita butuhkan. Algoritma tidak membunuh rasa penasaran kita dengan pisau, melainkan membunuhnya perlahan dengan bantal kenyamanan. Tanpa sadar, kita menyerahkan agensi kognitif kita kepada deretan kode matematika.

V

Saya sama sekali tidak menyalahkan kita yang sering terbuai menikmati kemudahan ini. Sangat manusiawi untuk merasa lelah setelah seharian bekerja keras dan hanya ingin rebahan sambil dihibur oleh rentetan video pendek di layar. Kita harus ingat, sistem ini memang dirancang dengan sengaja oleh ribuan insinyur paling cerdas di dunia untuk menawan perhatian kita. Tidak mudah melawannya. Tapi mungkin, ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk mulai merebut kembali kendali atas pikiran kita sendiri. Mari kita mulai dari hal yang paling kecil. Besok, cobalah untuk tidak langsung menekan tab rekomendasi saat membuka internet. Ketiklah sebuah pertanyaan acak di kolom pencarian. Carilah topik yang sama sekali di luar zona nyaman atau minat kita selama ini. Jadilah pemburu lagi. Karena pada akhirnya, apa yang membuat pikiran manusia tetap hidup, tajam, dan bertumbuh bukanlah jawaban-jawaban instan yang disuapkan ke mulut kita. Pikiran kita hidup dari pertanyaan-pertanyaan liar yang berani kita cari tahu sendiri.